Connect with us

Opini

Khofifah Show

Published

on

Khofifah Show 31

Oleh: Dhimam Abror Djuraid
(Mantan Ketua PWI Jawa Timur)

Khofifah Indar Parawansa tampil di panggung penutupan orientasi mahasiswa baru Uiversitas Airlangga (Unair), Surabaya (28/8). Khofifah, gubernur Jawa Timur dan sekaligus ketua Ikatan Alumni (IKA) Unair, tampil di panggung memberikan motivasi kepada mahasiswa baru supaya bisa berprestasi tinggi.

Acara itu menjadi mirip ‘’Khofifah Show’’ karena Khofifah memang ditampilkan sebagai bintang utama. Atau bisa juga disebut sebagai sebagai ‘’Khofifah and Ganjar Show’’, karena ada co-host Ganjar Pranowo, gubernur Jawa Tengah yang juga ketua Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama). Pasangan itu terlihat kompak memberi motivasi. Berdua terlihat terampil dan piawai mengendalikan show.

Tidak ada yang salah dengan ‘’Khofifah Show’’ itu. Khofifah punya justifikasi sepenuhnya untuk tampil menyajikan show. Cuma, yang memunculkan pertanyaan adalah tampilnya Ganjar Pranowo sebagai co-host mendampingi Khofifah. Tentu banyak alasan yang bisa diajukan, dua orang itu sama-sama gubernur dan sama-sama ketua organisasi alumni dua universitas besar. Tapi pertanyaan tetap muncul, mengapa berdua dengan Ganjar.

Pada tahun politik seperti sekarang semua gerakan sekecil apa pun pasti memunculkan ramesan politik, memunculkan spekulasi politik. Ganjar Pranowo sedang menjadi ‘’hot property’’ dalam panggung politik Indonesia, karena selalu muncul sebagai tiga besar dalam berbagai survei. Semakin dekat dengan tahun politik 2024 semakin kencang spekulasi yang muncul oleh berbagai manuver sekecil apa pun.

Dalam perspektif dramaturgi Erving Goffman penampilan Khofifah Show adalah penampilan di panggung depan atau front stage. Khofifah terlihat cerah-ceria bagaikan seorang pemandu show profesional. Penampilannya bersama Ganjar sungguh serasi dan saling mengisi. Itulah panggung depan yang tersaji pada acara Khofifah Show.

Tapi ada panggung belakang atau back stage yang tidak terlihat pada show itu. Ganjar dan Khofifah adalah dua kepala daerah yang namanya masuk radar calon presiden maupun wakil presiden pada perhelatan pilpres 2024. Di balik panggung itulah kemungkinan ada rencana dua tokoh itu untuk memperbaiki citra untuk menaikkan elektabilitas. Semua kesempatan harus dioptimalkan, dan itulah yang dilakukan Khofifah dalam show di Unair itu.

Selama beberapa tahun terakhir ini kampus-kampus di Indonesia hambar dari aktivitas politik intelektual. Kondisinya mirip dengan era Orde Baru yang menerapkan NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahsiswaan) untuk meredam politik kampus.

Mahasiswa yang terlibat politik dianggap tidak normal, dank arena itu harus dinormalkan. Mahasiswa dibikin fokus ke kuliah dan tidak tercemar oleh aktifitas politik. Mahasiswa dibikin steril dari politik supaya fokus pada penyelesaian sistem kredit semester. Alih-alih rajin menyicil kredit semester, yang terjadi kemudian adalah sistem kebut semalam.

Mahasiwa menjadi apolitik. Maka muncullah tipe mahasiswa ‘’kupu-kupu’’ kuliah pulang, kuliah pulang. Ada juga mahasiswa yang lebih sering mengopi di kafe atau menongkrong di mal. Mahasiswa ini masuk kategori mahasiswa kunang-kunang, kuliah nangkring, kuliah nangkring. Ada mahasiswa yang produktif dan bisa kuliah sambil melapak. Mahasiswa jenis ini termasuk spesies mahasiswa kuda-kuda, kuliah dagang, kuliah dagang.

Bukan cuma mahasiswa yang pandai berdagang. Pejabat kampus pun menjadi lebih lihai berdagang, termasuk memperdagangkan penerimaan mahasiswa baru. Kampus dikelola layaknya perusahaan, kalau tidak mau disebut pabrik. Kinerja dosen tidak dinilai dari kemampuan intelektualnya. Tiap hari dosen harus cap jempol untuk menandai kehadiran di kampus. Dosen harus pandai membuat laporan keuangan, kalau tidak mau kehilangan dana penelitian.

Kaum intelektual kampus diperlakukan seperti karyawan pabrik. Para doktor dan guru besar harus mengisi presensi kehadiran setiap hari. Ada insentif tambahan untuk kehadiran, dan ada denda berupa pemotongan bagi yang mangkir. Para pekerja kampus itu setiap saat sibuk dengan keharusan memenuhi target beban kerja. Meleset dari target beban kerja berarti tunjangan melayang. Atau, lebih buruk lagi, jabatan akan ikut melayang.

Yang terjadi kemudian banyak dosen yang menjadi tukang palak intelektual, memalak mahasiswa supaya membuat penelitian ilmiah, lalu sang dosen mendaku dengan menempelkan namanya sebagai ‘’first author’’. Sang dosen masih memaksa para mahsiswa supaya mengutip karya ilmiahnya untuk menaikkan sitasi.

Jabatan rektor dikontrol dan ditentukan oleh pemerintah sehingga praktis rektor adalah pegawai pemerintah. Malah ada juga rektor yang menjadi ‘’petugas partai’’. Rektor tidak menjadi panutan intelektual, tapi lebih sebagai direktur utama atau CEO sebuah perusahaan perseroan.

Tidak adanya politik kampus menjadikan kontrol dari internal lemah. Korupsi di kampus tidak terendus dan tidak terdeteksi. Kasusnya baru meledak setelah rektor tertangkap OTT (operasi tangkap tangan) oleh KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi).

Apa yang terjadi terhadap rektor Universitas Lampung, Profesor Karomani sebenarnya tidak mengagetkan, karena praktik itu tidak mungkin hanya terjadi di Unila. Nasib Prof. Karomani sungguh apes, sudah dicokok KPK, namanya sekarang diplesetkan menjadi ‘’Prof. Karomoney’’.

Akademisi telah menjadi akademia gelap, dan kampus telah mati. Begitu kata Peter Fleming dalam ‘’Dark Academia; How Universities Die’’. Kampus tidak lagi melahirkan intelektual organik ala Gramsci yang bisa menjadi kontrol terhadap kekuasaan. Sebaliknya kampus banyak melahirkan ‘’cheer leaders intelectuals’’ para intelektual pemandu sorak yang menjadi bagian dari pertunjukan kekuasaan.

Inilah yang harusnya menjadi keprihatinan kalangan kampus. Kesadaran untuk menghidupkan kembali spirit intelektual kampus harus ditanamkan sejak mahasiswa mengikuti orientasi. Kampus harus melahirkan intelektual, yang oleh Dr. Ali Shariati disebut sebagai ‘’Rauzan Fikri’’, manusia yang tercerahkan dan mencerahkan.

Yang terjadi sekarang kampus menjadi sasaran politik praktis. Kondisinya mirip Orde Baru. Mahasiswa di kampus dijadikan sebagai massa mengambang, tidak boleh berpolitik, tapi menjadi objek politik ketika ada pemilu. Kampus menjadi target politisasi untuk menaikkan popularitas dan elektabilitas. Itulah—kira-kira—yang terbaca di panggung belakang ‘’Khofifah Show’’. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Advertisement

Trending

Tindak Lanjut Laporan Masyarakat, Polisi Datangi Room Karaoke Berkedok Rumah Makan 46 Tindak Lanjut Laporan Masyarakat, Polisi Datangi Room Karaoke Berkedok Rumah Makan 47
Kriminal3 minggu ago

Tindak Lanjut Laporan Masyarakat, Polisi Datangi Room Karaoke Berkedok Rumah Makan

Kronologi, Gorontalo – KBO Sat Intelkam Polresta Gorontalo Kota dan Kapolsek Kota Utara mendatangi pemilik rumah makan Kedai 69 yang...

Hendak Selundupkan Cap Tikus, Mobil Pengangkut Bawang Diamankan Polisi di Gorut 48 Hendak Selundupkan Cap Tikus, Mobil Pengangkut Bawang Diamankan Polisi di Gorut 49
Kriminal2 bulan ago

Hendak Selundupkan Cap Tikus, Mobil Pengangkut Bawang Diamankan Polisi di Gorut

Kronologi, Gorontalo – Satu unit mobil pick up dengan nomor polisi DM 8317 BN diamankan aparat Polres Gorontalo Utara (Gorut)...

Disangka Teroris, Seorang Warga Pengidap Gangguan Mental Ditangkap Polisi 50 Disangka Teroris, Seorang Warga Pengidap Gangguan Mental Ditangkap Polisi 51
Kriminal2 bulan ago

Disangka Teroris, Seorang Warga Pengidap Gangguan Mental Ditangkap Polisi

Kronologi, Gorontalo – Kepolisian Resor Gorontalo mengamankan warga berinisial SR alias Arif (35) karena sempat ditenggarai seorang teroris. Penangkapan warga...

Polisi Gerebek Tempat Penyulingan Cap Tikus di Gentuma Raya 52 Polisi Gerebek Tempat Penyulingan Cap Tikus di Gentuma Raya 53
Kriminal2 bulan ago

Polisi Gerebek Tempat Penyulingan Cap Tikus di Gentuma Raya

Kronologi, Gorontalo – Aparat kepolisian dari Polres Gorontalo Utara (Gorut) dibantu Polsek Gentuma Raya, menggerebek satu tempat penyulingan minuman keras...

Polisi Amankan Ratusan Liter Miras dari Sejumlah Lokasi di Gorontalo Utara 54 Polisi Amankan Ratusan Liter Miras dari Sejumlah Lokasi di Gorontalo Utara 55
Kriminal3 bulan ago

Polisi Amankan Ratusan Liter Miras dari Sejumlah Lokasi di Gorontalo Utara

Kronologi, Gorontalo – Kapolres Gorontalo Utara (Gorut) AKBP Juprisan Pratama Ramadhan Nasution, meminta agar masyarakat turut berperan aktif dalam pemberantasan...

Polda Gorontalo Tangani Enam Kasus Besar Batu Hitam, Ini Daftarnya 56 Polda Gorontalo Tangani Enam Kasus Besar Batu Hitam, Ini Daftarnya 57
Kriminal3 bulan ago

Polda Gorontalo Tangani Enam Kasus Besar Batu Hitam, Ini Daftarnya

Kronologi, Gorontalo – Sepanjang periode 2021-2022, Kepolisian Daerah (Polda) Gorontalo telah menangani enam kasus besar penambangan dan pengangkutan material batu...

Tumpukan Ribuan Karung yang Diduga Batu Hitam di Bone Bolango Raib 58 Tumpukan Ribuan Karung yang Diduga Batu Hitam di Bone Bolango Raib 59
Kriminal3 bulan ago

Tumpukan Ribuan Karung yang Diduga Batu Hitam di Bone Bolango Raib

Kronologi, Bone Bolango – Ribuan karung yang menumpuk di pinggir jalan dan terpasang garis polisi di Desa Buludawa, Kecamatan Suwawa,...

Dor! Oknum Polisi Tembak Karyawan Perusahaan Leasing di Kota Gorontalo 60 Dor! Oknum Polisi Tembak Karyawan Perusahaan Leasing di Kota Gorontalo 61
Kriminal3 bulan ago

Dor! Oknum Polisi Tembak Karyawan Perusahaan Leasing di Kota Gorontalo

Kronologi, Gorontalo – Seorang karyawan perusahaan leasing di Kota Gorontalo menjadi korban penembakan yang dilakukan oleh salah seorang oknum anggota...

Facebook

Advertisement

Terpopuler

Copyright © 2018 PT Ininnawa Digital Media