Connect with us

Review Film

Review Film ‘ABRACADABRA’: Film  Adalah Pertunjukan Sulap

Published

on

Review Film ‘ABRACADABRA’: Film  Adalah Pertunjukan Sulap 33

Oleh: Arya Pratama Putra

“Abracadabra!” adalah kata yang diserukan oleh pesulap pada momen penghujung trik yang sedang mereka mainkan. Kata turunan dari bahasa aram (Aramaic) yang memiliki arti ‘dibuat dari kata-kata saya’ ini sendirinya tidak bermakna apa-apa, melainkan hanya sugesti yang memberikan impresi ada suatu kekuatan sihir yang dipanggil saat memainkan pertunjukan tersebut. Sedikit banyaknya, mantra abracadabra merupakan bagian dari trik sulap itu sendiri. Hanya sebaris kata yang mencoba menghasilkan ilusi. So in that sense, kita bisa bertanya apakah film Abracadabra garapan Faozan Rizal ini juga hanyalah trik dan barisan gibberish – omong kosong – belaka?

Film ini berbicara tentang Lukman (Reza Rahadian), seorang Grandmaster Sulap yang – untuk alasan yang tidak begitu dijelaskan – mulai kehilangan kepercayaan pada kemagisan pekerjaannya. Ia bermaksud mempensiunkan diri dengan cara yang lebih terhormat daripada yang dilakukan oleh ayahnya; yang menghilang begitu saja. “Aku tidak akan bersembunyi”, lirih Lukman mantap sambil memandang foto dan memorabilia bekas pertunjukan milik sang ayah. Ada satu kotak kayu di antara barang-barang tersebut. Kotak persegi biasa. Meskipun di atasnya tercetak segitiga tulisan abracadabra, seperti yang dituliskan pada jimat-jimat kesehatan pada abad pertengahan, tapi kotak ini bentukannya seperti kotak biasa untuk nyimpan barang. Tidak ada kontrapsi untuk membuka lubang rahasia. Tidak ada tuas tersembunyi. Tidak ada apa-apa. Lukman bermaksud menggunakan kotak ‘biasa’ ini sebagai pertunjukan sulap terakhirnya. Ia ingin dianggap gagal oleh penonton sehingga bisa undur diri dengan tenang. Namun ternyata kotak itu bukan sulap, melainkan sihir! Seorang anak kecil beneran hilang saat dimasukkan Lukman ke sana. Lukman harus menarik dirinya kembali ke dalam dunia sihir dan muslihat, mencari tahu apa sebenarnya kotak itu supaya bisa mengembalikan orang-orang yang sudah ia hilangkan, mengarungi misteri dunia sang ayah, sembari melarikan diri dari polisi (Butet Kertarajasa) yang hendak menangkapnya dengan tuduhan penculikan.

Kunci dari penyeruan abracadabra oleh pesulap-pesulap terletak pada cara mengucapkannya. Tidak bisa dengan sekadar melambaikan tongkat sihir dan berseru sekenanya. Harus dramatis. Antisipasi penonton kudu dibangun terlebih dahulu sebelum kata pamungkas itu disebutkan. Film Abracadabra punya banyak trik dalam menyuarakan cerita dan gagasannya. Dan film ini punya cara bercerita tersendiri – cara penyampaian – yang benar-benar membuatnya berbeda (beneran, gak ada film Indonesia yang baru-baru ini main di luar sana yang tampil seperti film ini). Cara berceritanya inilah yang jadi penentu utama kita bisa menyukainya atau tidak. Karena film ini bisa sangat aneh, membingungkan, membosankan, atau malah konyol bagi masing-masing yang menyaksikan.

Karakter-karakter dalam film ini ditulis dengan begitu unik, sampai-sampai menginjak batas surealis. Banyak tokoh Abracadabra yang bersikap aneh, yang berdialog creepy (film mengambil keuntungan dari aktor-aktor yang biasa bermain teater), seolah mereka dipinjam langsung dari dunia milik David Lynch. Keseluruhan dunia film ini enggak bekerja sebagaimana mestinya dunia kita bekerja. Sulapnya bahkan lebih mirip sihir ketimbang sulap dengan tokoh-tokoh yang bisa menghilang ataupun mampu mengirim mimpi. Ada satu adegan saat Lukman naik taksi ke Pantai Rahasia, dan untuk sampai ke sana, taksi itu harus berjalan mundur – like, gambar video yang di-play dengan tombol reverse. Gak masuk akal? Ya. Gak logis? Ya. Namun itulah yang menjadi daya tariknya. Film meletakkan komedi mereka pada karakter-karakter dan kejadian ganjil. Batas antara sulap dengan sihir itu tipis sekali di sini. Semuanya dimaksudkan paralel, sebagai pendukung perjalanan inner Lukman yang berusaha mencari rasa percayanya yang hilang terhadap keajaiban.

Faozan Rizal yang berakar sebagai mata di balik lensa kamera punya visi sangat indah dalam menangkap gambar-gambar yang menjadi panggung pertunjukan film ini. Dia menggunakan palet warna yang mengingatkan kita pada film-film karya sutradara Wes Anderson. Ruangan dalam kantor polisi dalam Abracadabra disiram oleh warna merah muda yang kontras sekali dengan penghuninya yakni seorang komisaris dan dua anak buahnya. Ini menguarkan kesan konyol, persis seperti karakter para polisi yang dibuat menganggap sulap adalah kriminal dengan nada komikal. Sementara seringkali dunia akan disapu oleh gradasi warna orange tatkala Lukman fokus di layar, yang membuat kita secara tak sadar menghubungkan dirinya dengan harimau sumatera bernama Datuk yang bisa muncul di mana saja, yang mungkin adalah spirit-animalnya. Pemilihan komposisi warna dan posisi/blocking karakter merupakan bagian integral dari bangunan dunia cerita.

Ketika cerita butuh paparan, entah itu dari tokoh yang menceritakan langsung lewat flashback, film melakukannya lewat treatment khusus. Adegan eskposisi tersebut diceritakan dengan gaya film bisu. Kita melihatnya dalam reel klip film hitam putih. Sehingga kita juga seperti mundur bersama ke dalam kurun waktu, seolah berpindah dari tipikal film kontemporer ke film klasik.

Selain waktu, tempat juga merupakan elemen yang penting, walaupun sangat subtil sekali. Tokoh kita akan bertualang dari panggung, ke bandara, ke pantai, ke bukit. Film memasukkan elemen mitologi ke dalam cerita; kotak kayu yang jadi sumber masalah disebutkan terbuat dari kayu Pohon Kehidupan Yggdrasil. Dalam mitologi Norwegia (Norse) Yggdrasil adalah pohon raksasa di pusat bumi yang akarnya menembus hingga tiga dunia. Dalam film ini, walaupun tidak pernah dijelaskan apa persisnya yang terjadi kepada orang-orang yang masuk dan menghilang ke dalam kotak, namun diberikan kesan bahwa keajaiban kotak Lukman ini berupa ia menjadi semacam portal. Yang masuk ke sana bisa muncul di mana saja atau muncul lagi dari dalam kotak namun di kurun waktu yang berbeda. Orang yang mengerti tentang kotak ini diperlihatkan mengincar kekuatannya; mereka sukarela masuk seolah ada tempat yang ingin mereka tuju, dan kotak itu adalah penghantarnya.

Jika dipikir-pikir, film memang tak ubahnya seperti pertunjukan sulap. Ada akting. Ada sutradara yang punya job-desc mirip dengan pesulap; mengarahkan kru dan para pemain dalam sebuah pertunjukan make-believe, kalo gak mau dibilang menipu. Dan tentu saja, sama-sama punya trik. Untuk urusan trik, seperti yang sudah dijabarkan di atas, Abracadabra punya banyak. Film ini tampak memikat. Film ini terdengar berbeda. Tapi secara substansi, masih ada beberapa yang terasa belum sampai; belum kena. Editing yang masih terlihat jelas potongannya – kita dapat menemukan dengan jelas mana adegan sulap yang dipotong dan kemudian disatukan kembali. Narasi yang belum memuaskan lantaran masih banyak pertanyaan yang terangkat tapi tak-terbahas. Journey tokoh utama dapat terasa terlampau aneh sehingga kadang kita merasa lebih relate dan tertarik sama ‘petualangan’ komisaris polisi konyol yang memburunya. Si komisaris bahkan punya latar belakang yang berkonflik lebih menarik; dia adalah murid sulap yang gagal menjadi pesulap.

Untuk menjawab pertanyaan di akhir paragraf awal; Abracadabra enggak benar-benar sebuah gibberish karena tokohnya mengalami pembelajaran, tapinya juga film ini memang terlalu mengandalkan gaya sehingga dunia yang diniatkan ambigu malah terasa artifisial. Pembelajarannya jadi terasa minimal. Ini seperti menonton trik-trik yang sangat elaborate untuk pertunjukan mengeluarkan kelinci dari dalam topi.

Arya Pratama Putra adalah peraih Piala Maya 2017 kategori Blog/Vlog Review Film Terpilih.

Review Film ‘ABRACADABRA’: Film  Adalah Pertunjukan Sulap 34

Rubrik ini terselenggara berkat kerjasama dengan Forum Film Indonesia
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Advertisement

Trending

Tindak Lanjut Laporan Masyarakat, Polisi Datangi Room Karaoke Berkedok Rumah Makan 49 Tindak Lanjut Laporan Masyarakat, Polisi Datangi Room Karaoke Berkedok Rumah Makan 50
Kriminal3 minggu ago

Tindak Lanjut Laporan Masyarakat, Polisi Datangi Room Karaoke Berkedok Rumah Makan

Kronologi, Gorontalo – KBO Sat Intelkam Polresta Gorontalo Kota dan Kapolsek Kota Utara mendatangi pemilik rumah makan Kedai 69 yang...

Hendak Selundupkan Cap Tikus, Mobil Pengangkut Bawang Diamankan Polisi di Gorut 51 Hendak Selundupkan Cap Tikus, Mobil Pengangkut Bawang Diamankan Polisi di Gorut 52
Kriminal2 bulan ago

Hendak Selundupkan Cap Tikus, Mobil Pengangkut Bawang Diamankan Polisi di Gorut

Kronologi, Gorontalo – Satu unit mobil pick up dengan nomor polisi DM 8317 BN diamankan aparat Polres Gorontalo Utara (Gorut)...

Disangka Teroris, Seorang Warga Pengidap Gangguan Mental Ditangkap Polisi 53 Disangka Teroris, Seorang Warga Pengidap Gangguan Mental Ditangkap Polisi 54
Kriminal2 bulan ago

Disangka Teroris, Seorang Warga Pengidap Gangguan Mental Ditangkap Polisi

Kronologi, Gorontalo – Kepolisian Resor Gorontalo mengamankan warga berinisial SR alias Arif (35) karena sempat ditenggarai seorang teroris. Penangkapan warga...

Polisi Gerebek Tempat Penyulingan Cap Tikus di Gentuma Raya 55 Polisi Gerebek Tempat Penyulingan Cap Tikus di Gentuma Raya 56
Kriminal2 bulan ago

Polisi Gerebek Tempat Penyulingan Cap Tikus di Gentuma Raya

Kronologi, Gorontalo – Aparat kepolisian dari Polres Gorontalo Utara (Gorut) dibantu Polsek Gentuma Raya, menggerebek satu tempat penyulingan minuman keras...

Polisi Amankan Ratusan Liter Miras dari Sejumlah Lokasi di Gorontalo Utara 57 Polisi Amankan Ratusan Liter Miras dari Sejumlah Lokasi di Gorontalo Utara 58
Kriminal3 bulan ago

Polisi Amankan Ratusan Liter Miras dari Sejumlah Lokasi di Gorontalo Utara

Kronologi, Gorontalo – Kapolres Gorontalo Utara (Gorut) AKBP Juprisan Pratama Ramadhan Nasution, meminta agar masyarakat turut berperan aktif dalam pemberantasan...

Polda Gorontalo Tangani Enam Kasus Besar Batu Hitam, Ini Daftarnya 59 Polda Gorontalo Tangani Enam Kasus Besar Batu Hitam, Ini Daftarnya 60
Kriminal3 bulan ago

Polda Gorontalo Tangani Enam Kasus Besar Batu Hitam, Ini Daftarnya

Kronologi, Gorontalo – Sepanjang periode 2021-2022, Kepolisian Daerah (Polda) Gorontalo telah menangani enam kasus besar penambangan dan pengangkutan material batu...

Tumpukan Ribuan Karung yang Diduga Batu Hitam di Bone Bolango Raib 61 Tumpukan Ribuan Karung yang Diduga Batu Hitam di Bone Bolango Raib 62
Kriminal3 bulan ago

Tumpukan Ribuan Karung yang Diduga Batu Hitam di Bone Bolango Raib

Kronologi, Bone Bolango – Ribuan karung yang menumpuk di pinggir jalan dan terpasang garis polisi di Desa Buludawa, Kecamatan Suwawa,...

Dor! Oknum Polisi Tembak Karyawan Perusahaan Leasing di Kota Gorontalo 63 Dor! Oknum Polisi Tembak Karyawan Perusahaan Leasing di Kota Gorontalo 64
Kriminal3 bulan ago

Dor! Oknum Polisi Tembak Karyawan Perusahaan Leasing di Kota Gorontalo

Kronologi, Gorontalo – Seorang karyawan perusahaan leasing di Kota Gorontalo menjadi korban penembakan yang dilakukan oleh salah seorang oknum anggota...

Facebook

Advertisement

Terpopuler

Copyright © 2018 PT Ininnawa Digital Media